SEBUAH KESAKSIAN

 

Saat kegelapan membentangkan selimutnya dan menghantarkan menusia kea lam mimpi yang indah sempurna, bahasa pun telah berganti menjadi bahasa alam yang tak kan dapat kau mengerti. Karna memang yang berbicara saat itu adalah alam. Langit, bumi, serta mekhluk-makhluk yang mengisi hamparannya. Kecuali kita manusia. Kalaupun saat itu ada yang terjaga, takkan mungkin ia dapat menangkap dan memahaminya.

Lautan yang bergelombang, gunung yang tinggi menjulang, serta bulan dan bintang yang cahayanya cemerlang, merekalah yang tengah mengambil alih kekuasaan. Mereka bersama bercakap-cakap tentang apa yang mereka lihat, dengar, dan dilakukan manusia di atas mereka.

“Hai gunung, tahukah kau. Peristiwa apa yang telah terjadi hari ini di atas punggungku? Seru laut kepada gunung.

“Ceritakanlah kepadaku,” Jawabnya.

“Hari ini ada seorang gadis yang telah menumpahkan air matanya. Dia bercerita kepadaku tentang kisah hidupnya yang sanyat memilukan.”

“Bagaimana kisahnya?”

“Dia terseret arus peperangan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Hidupnya kini sebatangkara. Sementara tidak ada sanak saudara maupun kerabat yang mempedulikannya. Mereka sibuk menyelamatkan nyawa mereka masing-masing. Telah banyak darah yang tertumpah, telah banyak pula yang tercerai berai antara sesama mereka. Si istri menjadi janda, Si anak menjadi yatim, Banyak ibu yang kehilangan anaknya, Rumah serta harta benda musnah tak tersisa. Tak pernah seharipun dilalui dengan rasa aman. Desingan peluru dan jerit kesakitan selalu memenuhi setiap sudut dalam kehidupannya.

“Lalu?”

“Dia bertanya kepadaku. Mengapa hal ini mesti terjadi. Kenapa dia yang harus mengalami peristiwa ini? Dimana keadilan? Tak pernah sedetikpun dia merasa kebahagiaan dan ketenangan. Padahal, melalui cerita yang ia dengar dari kawan-kawannya yang sampai kepadanya melalui surat, mereka tengah dalam keadaan yang sangat menyenangkan. Mereka hidup tenang dan aman, bersekolah, bermain, dan bisa melakukan apa yang mereka inginkan tanpa rasa takut dan cemas.”

Suasana mendadak menjadi hening. Tak ada suara yang terdengar memberi tanggapan atas cerita laut. Waktu seperti terhenti. Hampir saja mereka tak menyadari keberadaan lawan bicaranya dan lupa apa yang sedang mereka lakukan, jika saja hutan tak bersuara memecah kesunyian.

“Mengapa kalian semua terdiam?”

Gunung menceritakan kembali apa yang dikisahkan laut kepadanya.

“Kenapa heran? Bukankah itu sesuatu yang lumrah terjadi di bumi ini?”
“Apa maksudmu?” Laut dan gunung serempak bertanya begitu mendengar komentar hutan.

“Apakah kalian tak mengetahui? Bahwa didaerahku setiap hari selalu dipenuhi oleh kekerasan, perkelahian, pertumpahan darah dan nyawa?,. Itu sudah menjadi pemandangan biasa yang diperagakan oleh seluruh penghuni daerahku, semuanya, termasuk manusia”

“Termasuk manusia?”

“Ya, bahkan mungkin mereka lebih buas dari hewan terbuas sekalipun, Mereka mengambil dan menguasai apa yang diinginkannya. Bahkan lebih dari itu. Bayangkan. Setiap hari mereka mengikis dan memotong-motong tubuhku tanpa ampun. Telah banyak pohon-pohon yang tumbuh di atasku yang mereka babat dengan rakusnya. Hanya demi untuk memuaskan perut mereka. Mereka membunuhi hewan-hewan yang tinggal dengan nyaman di dalam perlindunganku. Yang kecil, yang besar, semua mereka bunuh tanpa ampun. Lebih lagi, mereka dengan semena-mena membakar dan menggunduliku untuk kemudian dijadikan lahan pertanian, peternakan, dan tempat tinggal. Tanpa memperhatikan apa akibatnya bagi ekosistem alam. Bahkan terhadap sesama merekapun, mereka bagai singa yang lapar.”

“maksudmu?”

“Baru sore tadi aku menyaksikan segerombolan orang menembaki para penduduk desa yang berada dekat denganku. Mereka melakukan itu dengan alas an tanah yang ditempati para penduduk desa itu adalah tidak sah dan harus dikembalikan kepada pemerintah. Padahal aku tahu persis, telah puluhan tahun dan dari generasi ke generasi mereka telah berdiam disana. Dan aku tahu persis, bahwa itu hanya alas an yang dibuat-buat. Tujuan orang-orang serakah itu hanya satu, yatu memperluas lahan untuk areal peternakan yang mereka kelola. Para penduduk mencoba untuk mempertahankan tanah yang telah lama mereka huni itu. Namun apalah daya si lemah di hadapan yang kuat. Orang-orang itu malah menjawabnya dengan merusak rumah-rumah, membakar fasilitas-fasilitas desa. Dan tanpa segan-segan, mereka memuntahkan peluru untuk siapa yang berani melawan.”

Tak ada yang berani berkomentar atas cerita dari hutan itu. Semuanya terdiam, hanyut dalam fikirannya masing-masing. Suasana tetap sepaerti itu sampai gunung bersuara memecahkan kaheningan. “ Bukankah manusia makhluk yang lebih tinggi derajatnya daripada kita? Mereka mempunyai hati nurani, debekali pula dengan akal dan fikiran agar mereka bisa minilai baik buruknya suatu perbuatan, lagipula mereka diciptakan bukankah untuk membuat kesejahtraan di ala mini?”

“Benar, tapi berapa banyak dari mereka yang menyadari dan menggunakan apa yang kau sebutkan tadi?” Hutan menjawab pertanyaan itu kembali dengan pertanyaan.

“Benar, sedikit sekali dari mereka yang menyadari hal itu. Mereka telah begitu terlena dengan apa yang ada. Mereka hanya mengumbar nafsunya saja. Sehingga tak ada dalam fikiran mereka selain bagaimana memuaskan keinginannya itu. Nilai-nilai dan norma telah mereka lupakan. Hubungan keluarga dan saudara pun telah mereka abaikan. Yang penting bagi mereka, begaimana bisa bertahan hidup dan memperoleh kepuasan darinya sebanyak-banyaknya.” Laut pun mendukung pendapat hutan.

Tinggal gunung yang terdiam mendengar dua pendapat itu. Mungkinkah makhluk yang dibekali dengan segala macam kelebihan itu bertindak sangat jauh dari apa yang seharusnya mereka lakukan? Bukankah mereka seharusnya bersikap bijaksana, adil, saling berkasih saying, menghormati sesama, toleran, serta menjaga dan merawat ala mini dengan sebaik-baiknya? Bukankah nantinya mereka sendiri yang akan menerima akibat dari perbuatan mereka tersebut?? Berbagai pertanyaan terus dating bagai gelombang yang menerpa seluruh tubuhnya, tak dapat dibendung.

“Mengapa kau terdiam kawan?” Seru laut tatkala mendapatkan perubahan pada sahabatnya itu.

“Aku tak habis fikir, Apakah mereka belum mendapat peringatan tentang apa yang akan mereka terima bila terus bertindak seperti itu?”

“Sudah, telah banyak akibat yang mereka terima, bencana alam telah berkali-kali menimpa mereka, Kebakaran hutan, gempa bumi, banjir, longsor, badai di lautan, dan sebagainya. Tapi hanya sedikit dari mereka yang bisa menerima kenyataan dan mengambil pelajaran dari semua itu.”

“Sungguh mengenaskan. Andai saja mereka tahu bahwa nanti mereka akan diminta pertanggunggjawaban atas perbuatan mereka, dan andai mereka tahu kalau kita nanti akan menjadi saksi atas bermacam-macam perbuatan itu,,,,,,Gunung kembali berkata, kali ini kata-katanya itu seperti tertuju pada dirinya sendiri.

“Sudahlah kawan, tak usah tarlalu kau fikirkan. Tugas kita hanya menjaga agar kehidupan di bumi ini tetap seimbang dan tercegah dari bencana yang dapat menghancurkan kehidupan. Lebih dari itu, Segalanya kita serahkan pada Tuhan, Apa yang manusia lakukan, biarlah Dia yang memberikan balasannya. Lihat! Kawan kita si pengelana datang.”

Laut berseru gembira tatkala melihat angin meluncur dengan mulusnya dari kejauhan.

“Kabar apa yang kau bawa kali ini wahai angin?”

 

sumber: http://global-warming19.blogspot.com/2008/05/cerpen-global-warming.html